JURNAL REPUBLIK
Jurnal Republik weblog

Blitar

by Taufik Rahzen

BLITAR, kota kecil di lereng Gunung Kelud yang dilintasi Sungai Brantas, memiliki sejarah panjang yang merentang sejak abad 10 Masehi. Kediri melewati periode-periode penting sejarah di Jawa, dari mulai periode Kerajaan Daha, Singasari, Majapahit dan kembali mencuat ke permukaan pada periode pendudukan Jepang menyusul perlawanan bersenjata tentara PETA yang dipimpin Soeprijadi.

Keberadaan Gunung Kelud yang sejak zaman purba rutin memuntahkan abu vulkanik dan aliran Sungai Brantas yang melintasi Blitar dari timur ke Barat seperti menjadi berkah alam yang membuat Blitar sudah amat lama memiliki masyarakat dengan kebudayaan dan peradaban yang cukup tinggi.

Sir Halford Mackinder, seorang ahli geopolitik, menyebut Blitar bersama Malang dan Kediri seperti diciptakan bagi tumbuh-kembangnya pemerintahan politik (“natural seats of power”, dalam kata-kata Mackinder). Di kawasan inilah muncul pemerintahan Kerajaan Kediri (Daha), Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit. Semuanya beribukota di tepian Sungai Brantas.

Di Blitar sendiri sebenarnya tidak pernah berdiri sebuah pemerintahan kerajaan. Akan tetapi, keberadaan belasan prasasti dan candi menunjukkan Blitar memiliki posisi geopolitik yang penting.

Blitar menjadi salah satu rute penting yang menghubungkan Malang (Kerajaan Singosari) dan Kediri (Kerajaan Kediri dan Majapahit). Blitar merupakan rute sebelah selatan, sementara rute sebelah utara melewati daerah Mojosari. Rute utama tetaplah melewati Blitar karena Majosari sendiri dipenuhi rawa-rawa di sekitar muara sungai Porong.

Salah satu bukti menunjukkan Blitar sudah muncul sejak abad 10. Bukti itu berbentuk prasasti yang terpahat di belakang arca Ganesha. Prasasti itu menyebutkan bahwa Kepala Desa Kinwu telah diberi anugerah oleh Raja Balitung, yang bergelar Sri Iswara Kesawasamarot tungga, beserta mahamantrinya yang bernama Daksa, sebidang tanah sawah. Prasasti itu kira-kira dibuat pada tahun 829 Saka atau 907 Masehi.

Kendati kerajaan di sekitar Blitar lahir dan runtuh silih berganti, Blitar selalu menjadi kawasan penting. Tidak mengherankan jika di Blitar terdapat setidaknya 12 buah candi. Candi yang terbesar adalah Candi Penataran yang terletak di Kecamatan Nglegok. Candi yang dibangun sekira tahun 1197 Masehi ini dulunya berstatus sebagai candi Kerajaan Daha (Kediri).

Pada masa kemunculan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, wilayah Blitar relatif tidak banyak disentuh. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (dimulai dari Demak hingga era Kasunanan Surakarta atau Kesultanan Yogyakarta) kebanyakan memang berada di wilayah Jawa Tengah.

Setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai membangun kota-kota menyusul doktrin Pax Neerlandica yang dilansir van Heutzs, Blitar juga ikut dikembangkan sebagai kota modern yang memungkinkan untuk dihuni oleh orang-orang Eropa. Pada 1 April 1906, pemerintah melansir beleid yang menetapkan Blitar sebagai gemeente (kotamadya). Pada 1928, status Blitar bahkan ditingkatkan sebagai Kota Karesidenan Blitar berdasar StaatbladNomor 497.

Semasa pendudukan Jepang, status Blitar kembali berubah. Istilah “Gemeente Blitar” akhirnya diganti menjadi “Blitar Shi”. Pada periode Jepang inilah nama Blitar kembali mencuat ke permukaan menyusul digelarnya perlawanan bersenjata tentara PETA pimpinan Shodancho Soeprijadi pada 14 Februari 1945. Perlawanan bersenjata yang dimulai pada pukul 02.30 dinihari itu juga didukung oleh Chudancho dr Soeryo Ismail, Shodancho Soeparjono, Budancho Soedarmo, Shodancho Moeradi, Budancho Halir Mangkoe Dijaya, dan Budancho Soenanto.

Kendati perlawanan itu relatif mudah dipatahkan oleh Jepang, tak ayal perlawanan Soeprijadi, dkk., ini menempati posisi yang penting dalam ingatan publik karena menjadi salah satu contoh yang sering diacu untuk menunjukkan perlawanan bangsa Indonesia menghadapi pendudukan Jepang. Itulah sebabnya, kendati tak jelas rimbanya, Soeprijadi ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet RI yang pertama.

(Jurnal Nasional, Sabtu, 22 Mar 2008 )

2 Responses to “Blitar”

  1. Blitar termasuk Srengat, Lodoyo.pernah menjadi wilayah mancanegara dari keraton Kasunanan Surakarta dibuktikan dengan ritual memandikan Kiyai Pradah, mirip dengan budaya di Solo dan bahasa daerah yang berkiblat pada Keraton Kasunanan Surakarta.

  2. Kota Blitar , biar kutho cilik ning kawentar sak indrengee nuswantoro. nGGlegaar kawentar -wentar


Leave a Reply