JURNAL REPUBLIK
Jurnal Republik weblog

Jul
01
by Taufik Rahzen
REJANG Lebong, kabupaten di Bengkulu yang pusat pemerintahannya berada di Bukit Besar, memiliki kedekatan dengan angka “empat”, seperti “Empat Ajai” dan “Rejang Empat Petulai”. Konsepsi macam itu bisa menandai orang-orang Rejang memiliki wawasan geopolitik mengenai ruang persebaran mereka di Bengkulu.Suku bangsa Rejang, salah satu suku dengan sebaran populasi yang terbesar di Bengkulu, berasal dari kawasan ini. Sebelum terkenal dengan nama Rejang Lebong, kawasan ini menyandang beberapa nama, di antaranya adalah Renah Sekawi, Pinang Belapis atau kerap juga disebut Kutai Belek Tebo.

Sebelum mengenai tata sosial yang relatif rapi, orang-orang Rejang di Lebong hidup dengan cara nomadik. Dalam tambo orang-orang Rejang, periode ini kerap disebut sebagai masa “Meduro Kelam”.

Tatanan sosial mulai rapi setelah orang-orang Rejang mengenal institusi yang disebut “Ajai”. Secara sederhana, Ajai merupakan sosok yang dihormati oleh orang-orang Rejang. Seseorang ditetapkan sebagai Ajai melalui permufakatan komunal. Dialah yang memimpin orang-orang Rejang.

Tambo orang-orang Rejang mengenal empat orang Ajai yang paling masyhur. Mereka adalah Ajai Bintang yang memimpin di Pelabai, Ajai Siang yang memimpin di Siang Lekat, Ajai Begelan Mato yang memimpin di Kutai Belek Tebo, dan Ajai Malang yang memimpin di Bandar Agung/Atas Tebing.

Orang-orang Rejang memang akrab dengan angka “empat”. Selain mengenal empat Ajai legendaris tadi, orang-orang Rejang juga mengenal semacam konsepsi geopolitik yang disebut dengan “Rejang Empat Petulai”. Tambo orang-orang Rejang menyebut dari dari konsepsi “Rejang Empat Petulai” inilah nama “Lebong” akhirnya muncul.

Konsep “Rejang Empat Petulai” ini muncul pada masa kepemimpinan para Ajai tadi, terutama setelah kedatangan empat orang biku/biksu dari tlatah Jawa, disebut-sebut diutus oleh penguasa Majapahit. Kemungkinan karena dari Majapahit itulah empat orang biku tadi awalnya ditolak orang-orang Rejong yang khawatir mereka akan dijadikan wilayah kekuasaan Majapahit dan kelak diwajibkan menyetor pajak dan upeti. Mereka juga khawatir kebudayaan dan bahasa Jawa akan dipaksakan untuk diterapkan.

Tetapi empat biku itu ternyata bersikap amat kooperatif. Karakter dan laku keseharian mereka malah berhasil memikat orang-orang Rejang yang terbagi ke dalam empat wilayah tadi dan bahkan dipercaya untuk memimpin masing-masing wilayah. Dari situlah konsepsi “Rejang Empat Petulai” itu muncul.

Petulai sendiri secara sederhana bisa dianggap sebagai sebuah model dari sistem kekerabatan khas orang-orang Rejang. Dalam versi yang lain, petulai bagi orang-orang Rejang kadang diartikan sebagai tiang. Rejang Empat Petulai, dalam definis terakhir tadi, bisa dipahami sebagai “empat tiang yang menyangga dan memersatukan orang-orang Rejang”. Konsep ini penting mengingat orang-orang Rejang sendiri tersebar di beberapa wilayah yang lumayan berjauhan.

Orang-orang Rejang kini tersebar di beberapa kabupaten di Bengkulu, dari mulai Kabupaten Lebong, wilayah Merigi dan terutama di Rejang Lebong sendiri. Khusus di Kabupaten Rejang Lebong, orang-orang dari suku Rejang paling banyak berkumpul di Kecamatan kecamatan Kota Padang, Padang Ulak Tanding, dan Sindang Kelingi.

Orang-orang Rejang sendiri sempat berhasil membangun sebuah kerajaan kecil yang beberapa sumber menyebutnya sebagai Kerajaan Sungai Lebong. Diperkirakan, Kerajaan Sungai Lebong ini muncul sekitar abad 14, kurang lebih hampir bersamaan dengan Majapahit di Jawa. Pusat pemerintahannya berada di Curup yang sekarang menjadi ibukota Kabupaten Rejang Lebong.

Kendati demikian, Curup sempat tenggelam. Sewaktu kawasan Rejang Lebong diberi status sebagai Afdeling Rejang Lebong, pemerintah kolonial Hindia Belanda menunjuk Kepahiang sebagai ibukota Afdeling Rejang Lebong. Kepahing kini menjadi ibukota Kabupaten Lebong yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Rejang Lebong.

Jurnal Nasional, Kamis, 27 Mar 2008

Jun
29

24 Januari 1916. Hari ini, 92 tahun silam, di Purbalingga, Panglima Besar Jenderal Soedirman lahir. Profil yang diamini banyak orang sebagai Bapak Tentara Indonesia ini lahir dari keluarga yang taat beragama. Dalam penghargaan dan ketaatan pada nilai-nilai agama itulah Soedirman dibesarkan. Warisan itulah yang kelak menjadi ciri menonjol dari kepemimpinan Soedirman, yang hingga level-level tertentu memengaruhi pula watak tentara Indonesia.

Awalnya ia ingin menjadi guru. Soedirman karenanya memilih masuk Sekolah Guru Muhammadiyah di Solo. Begitu lulus, Soedirman langsung mengajar di sebuah SD Muhammadyah di Cilacap. Dalam karirnya sebagai guru di Cilacap, Soedirman bahkan sempat mencicipi pengalaman sebagai kepala sekolah.

Cikal dari karir militer Soedirman dimulai saat ia mulai aktif di organisasi kepanduan Muhammadiyah yaitu Padvinders Muhammadiyah yang pada 1920 berganti nama menjadi Hizbul Wathan (HW). Sewaktu Jepang membuka lowongan bergabung dengan PETA, Soedirman mengambil kesempatan itu. Di akhir masa pendudukan Jepang, Soedirman bahkan sudah menjadi pemimpin PETA untuk Karesidenan Banyumas.

Ketika Indonesia memroklamirkan kemerdekaannya, Soedirman kembali menorehkan prestasi: berhasil merebut semua senjata tentara Jepang di Karesidenan Banyumas tanpa menembakkan satu pun peluru. Capaian kemeliteran Soedirman makin menapak tinggi sewaktu ia dan pasukannya berhasil menghadang penetrasi pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda di daerah Ambarawa pada awal November 1945.

Catatan prestasi yang menjulang itu, ditopang kepribadiannya yang simpatik dan bersahaja, membuat Soedirman menjadi begitu populer. Tak perlu diherankan jika ia terpilih secara aklamasi sebagai Panglima TKR pada 12 November 1945, menggantikan Soeprijadi yang tak kunjung muncul. Soedirman “mengalahkan” Oerip Soemoharjo, seorang eks-KNIL yang lebih senior, lebih berpengalaman di bidang administrasi dan pertempuran, sekaligus sebagai pribumi dengan pangkat tertinggi dalam sejarah KNIL.

Di luar statusnya sebagai eks-PETA yang membuatnya tak disukai Perdana Menteri Sjahrir serta keterlibatannya dalam beberapa friksi politik yang mengaitkannya dengan Tan Malaka, Soedirman harus diakui menjadi referensi paling purba sekaligus yang utama dari dedikasi, integritas dan asketisme tentara Indonesia. Sementara Oerip Soemohardjo, untuk kemudian dilanjutkan Nasution, menjadi peletak dasar profesionalisme dan disiplin militer dari tentara Indonesia.

Pilihannya untuk tetap menggelar perlawanan gerilya di saat paru-parunya hanya berfungsi sebelah, persis di saat semua pimpinan RI memilih “menyerah” sewaktu Belanda menggelar Agresi Militer II, membuat profilnya makin terkerek ke langit-langit, menjadikannya seperti legenda.

Yang menarik dari kepemimpinan Soedirma, salah satunya, terletak pada himbuannya yang tanpa henti ihwal kesatuan antara tentara dan rakyat. Ucapannya yang terkenal, “Tentara dan rakyat itu seperti ikan dan air”, menjadi cikal dari karakter tentara Indonesia sebagai tentara rakyat, bisa dibilang menjadi alas dasar dari apa yang kelak disebut Dwi Fungsi ABRI.

Hal lain yang menarik dari kepemimpinan Soedirman adalah himbauannya yang berulang-ulang ihwal arti penting kesucian spirtual tentara sebagai prasyarat mutlak pengabdian tentara pada negara. Tanpa kesucian itu, kata Soedirman, Seorang tentara dengan mudah akan terjebak pada avonturisme yang tidak hanya membahayakan dirinya, tapi juga membikin rentan integritas perjuangan itu sendiri.

Semua kata dan laku Soedirman itu rupanya direkam dengan baik oleh rakyat. Mestikah diherankan jika kepulangannya dari medan gerilya di akhir tahun 1949 ditunggu banyak orang, dan pertemuan Soedirman dengan Soekarno, yang dipuncaki oleh adegan berpelukan keduanya, menjadi salah satu perjumpaan dua pemimpin republik yang paling menguras emosi dan perhatian.

Dari Soedirman, lagi-lagi kita menemukan contoh konkrit ihwal sosok guru sekolah yang dengan cemerlang bertransformasi menjadi “guru bangsa”.

Jun
29
by Taufik Rahzen

CIMAHI, sebuah kota kecil di pinggiran kota Bandung, memiliki catatan sejarah yang kental dengan kehidupan militer. Pada masa kolonial, kota ini dikenal sebagai salah satu Kota Garnisun.

Kawasan Cimahi dan sekitarnya sudah mulai tumbuh sebagai wilayah yang hidup setidaknya sejak abad 17. Kemungkinan besar pada masa itu wilayah Cimahi dan sekitarnya menjadi kawasan perkebunan yang subur dan ramai oleh transaksi perdagangan hasil bumi.

Salah satu bukti yang menunjukkan keberadaan perkebunan berikut transaksi ekonomi yang mengikutinya di Cimahi adalah mata uang kuno yang tersimpan di Museum Bank Indonesia. Mata uang itu teruat dari bahan bambu dan sepertinya mata uang ini hanya berlaku di Cimahi dan wilayah perkebunan di sekitarnya.

Cimahi mulai diperhatikan oleh pemerintah kolonial semenjak dibangunnya Jalan Raya Pos (Postweg) pada masa pemerintahan Williem Daendels. Pada waktu pembangunan Jalan Raya Pos dari Anyer itu sudah mencapai wilayah Bandung, pemerintah kolonial memutuskan untuk membangun sebuah pos penjagaan (semacam loji) di Cimahi, persisnya di sekitar Alun-alun Cimahi sekarang.

Pembangunan rel kereta api antara Bandung dan Cianjur antara 1874-1893 makin menghidupkan kota Cimahi. Jalur rel kereta yang melintasi Cimahi itu menjadi salah satu alasan pembangunan Stasiun Kereta Api Cimahi, salah satu stasiun kereta tertua di wilayah Jawa Barat. Pada periode yang hampir bersamaan, pemerintah kolonial juga membangun pusat pendidikan militer dan fasilitas penunjang lainnya, seperti Rumah Sakit khusus tahanan militer.

Pembangunan instalasi militer itu menandai orientasi pertahanan kolonial yang lebih memerhatikan ancaman dari dalam ketimbang serbuan dari luar. Pembangunan instalasi-instalasi militer di Cimahi menandai perubahan orientasi itu. Selain Cimahi, pemerintah kolonial juga membangun instalasi-instalasi militer di Magelang dan Malang. Kota-kota inilah yang pada masa itu disebut sebagai Kota Garnisun.

Sewaktu pemerintah kolonial Hindia Belanda melansir rencana memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung, Cimahi juga menjadi bagian integral dari rencana persiapan pembangunan ibukota pemerintahan yang baru.

Cimahi kira-kira direncanakan sebagai kota satelit bagi ibukota yang baru. Secara khusus, Cimahi direncanakan sebagai pusat konsentrasi kekuatan militer kolonial. Pabrik senjata, Artillerie Constructie Winkel, mulai dipindahkan dari Surabaya ke Cimahi sejak akhir abad-19.

Tak hanya itu, di Cimahi juga dibangun Krijgsraad, semacam peradilan militer. Wilayah hukum Krijgsraad di Cimahi meliputi seluruh daerah Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Kalimantan. Krijsraad ini yang memeriksa dan mengadili perkara pidana pada tingkat pertama terhadap anggota militer dengan pangkat Kapten ke bawah dan orang-orang sipil yang bekerja di militer.

Menjelang Perang Dunia ke-II, pemerintah kolonial juga menetapkan Cimahi sebagai pusat pelatihan militer bagi milis pribumi yang rencananya akan diperbantukan untuk menghadapi ancaman perang di Pasifik. Jepang lantas meneruskan rencana itu dengan menetapkan Cimahi sebagai pusat pendidikan bagi para instruktur militer (Seimen Dojo) yang akan diterjunkan untuk melatih para pemuda Indonesia.

Sewaktu Belanda kembali ke Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan, Cimahi kembali digunakan sebagai basis persiapan bagi militer NICA. Di sana didirikan School tot Opleiding voor Parachusten (Pasukan Parasait atau Baret Merah) yang siswa-siswanya kelak menjadi pasukan garda depan dalam Agresi Militer ke-II di Jogjakarta.

Catatan sejarah seperti itu membuat Cimahi dimungkinkan menjadi salah satu kawasan yang banyak dihuni oleh orang-orang yang memiliki loyalitas cukup kuat pada Belanda. Tidak mengherankan jika Westerling memulai gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dari Cimahi. Gerakan Westerling ini banyak diikuti oleh bekas tentara KNIL yang setelah terbentuknya Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) memilih desertir.

( Jurnal Nasional, Selasa, 25 Mar 2008)